This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, May 15, 2013

PEMERKOSAAN MASSAL MEI 1998 (Clara Atawa Wanita yang Diperkosa)

CLARA atawa Wanita yang Diperkosa
oleh Seno Gumira Ajidarma

Barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang babi*) – tapi aku memakai seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya.
Di hadapanku duduk wanita itu. Rambutnya dicat merah. Coklat sebetulnya. Tapi orang-orang menyebutnya merah. Padahal merah punya arti lain bagiku. Sudah bertahun-tahun aku dicekoki pikiran bahwa orang-orang merah adalah orang-orang yang berbahaya.
Jadi, aku tidak perlu percaya kepada wanita ini, yang rambutnya sengaja dicat merah. Barangkali isi kepalanya juga merah. Barangkali hatinya juga merah. Siapa tahu? Aku tidak perlu percaya kepada kata- kata wanita ini, meski ceritanya sendiri dengan jujur kuakui lumayan mengharukan.
Dia bercerita dengan bahasa yang tidak mungkin dimengerti. Bukan karena bahasa Indonesianya kurang bagus, karena bahasa itu sangat dikuasainya, tapi karena apa yang dialami dan dirasakannya seolah- olah tidak terkalimatkan. Wajahnya yang cantik sarat dengan luka batin yang tak terbayangkan. Aku hampir-hampir terharu bahkan sebelum dia bercerita. Tidak pernah bisa kubayangkan bahwa manusia bisa mengalami beban penderitaan seberat itu justru karena dia lahir sebagai manusia. Ceritanya terpatah-patah. Kalimatnya tidak nyambung.
Kata-kata bertebaran tak terangkai sehingga aku harus menyambung-nyambungnya sendiri. Beban penderitaan macam apakah yang bisa dialami manusia sehingga membuatnya tak mampu berkata-kata?
Maka cerita yang akan kau dengar ini bukanlah kalimatnya melainkan kalimatku. Sudah bertahun-tahun aku bertugas sebagai pembuat laporan dan hampir semua laporan itu tidak pernah sama dengan kenyataan. Aku sudah menjadi sangat ahli menyulap kenyataan yang pahit menjadi menyenangkan, dan sebaliknya perbuatan yang sebetulnya patriotik menjadi subversif — pokoknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan.
Maka, kalau cuma menyambung kalimat yang terputus-putus karena penderitaan, bagiku sungguh pekerjaan yang ringan.
***
Api sudah berkobar di mana-mana ketika mobil BMW saya melaju di jalan tol. Saya menerima telepon dari rumah. ”Jangan pulang,” kata Mama. Dia bilang kompleks perumahan sudah dikepung, rumah-rumah tetangga sudah dijarah dan dibakar. Papa, Mama, Monica, dan Sinta, adik-adikku, terjebak di dalam rumah dan tidak bisa ke mana-mana. ”Jangan pulang, selamatkan diri kamu, pergilah langsung ke Cengkareng, terbang ke Singapore atau Hong Kong. Pokoknya ada tiket. Kamu selalu bawa paspor kan? Tinggalkan mobilnya di tempat parkir. Kalau terpaksa ke Sydney tidak apa-apa. Pokoknya selamat. Di sana kan ada Oom dan Tante,” kata Mama lagi.
Saya memang sering ke luar negeri belakangan ini. Pontang-panting mengurusi perusahaan Papa yang nyaris bangkrut karena utangnya dalam dolar tiba-tiba jadi bengkak. Saya ngotot untuk tidak mem-PHK para buruh. Selain kasihan, itu juga hanya akan menimbulkan kerusuhan. Papa marah-marah. ”Kita tidak punya uang untuk membayar buruh. Selain produksi sudah berhenti, yang beli pun kagak ada. Sekarang ini para buruh hidup dari subsidi perusahaan patungan kita di luar negeri. Mereka pun sudah mencak-mencak profitnya dicomot. Sampai kapan mereka sudi membayar orang-orang yang praktis sudah tidak bekerja?”
Saya masih ngotot. Jadi Papa putuskan sayalah yang harus mengusahakan supaya profit perusahaan patungan kami di Hong Kong, Beijing, dan Macao diperbesar. Tetesannya lumayan untuk menghidupi para buruh, meskipun produksi kami sudah berhenti. Itu sebabnya saya sering mondar-mandir ke luar negeri dan selalu ada paspor di tas saya.
Tapi, kenapa saya harus lari sekarang, sementara keluarga saya terjebak seperti tikus di rumahnya sendiri? Saya melaju lewat jalan tol supaya cepat sampai di rumah. Saya memang mendengar banyak kerusuhan belakangan ini. Demonstrasi mahasiswa dibilang huru-hara. Terus terang saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Saya terlalu tenggelam dalam urusan bisnis. Koran cuma saya baca judul-judulnya. Itu pun maknanya tidak pernah jelas. Namun, setidaknya saya yakin pasti bukan mahasiswa yang membakar dan menjarah kompleks perumahan, perkotaan, dan mobil-mobil yang lewat. Bahkan bukan mahasiswa pun sebenarnya tidak ada urusan membakar-bakari rumah orang kalau tidak ada yang sengaja membakar-bakar.
Saya tancap gas. BMW melaju seperti terbang. Di kiri kanan jalan terlihat api menerangi malam. Jalan tol itu sepi, BMW terbang sampai 120 kilometer per jam. Hanya dalam sepuluh menit saya akan segera tiba di rumah. Tapi, di ujung itu saya lihat segerombolan orang. Sukar sekali menghentikan mobil. Apakah saya harus menabraknya? Pejalan kaki tidak dibenarkan berdiri di tengah jalan tol, tapi saya tidak ingin menabraknya. Saya menginjak rem, tidak langsung, karena mobil akan berguling-guling. Sedikit-sedikit saya mengerem, dan toh roda yang menggesek aspal semen itu tetap mengeluarkan bunyi Ciiiiiiitttt! Yang sering dianggap sebagai petanda betapa para pemilik mobil sangat jumawa.
Setelah berhenti, saya lihat ada sekitar 25 orang. Semuanya laki-laki.
”Buka jendela,” kata seseorang.
Saya buka jendela.
”Cina!” ”Cina!” Mereka berteriak seperti menemukan intan berlian.
Belum sempat berpikir, kaca depan BMW itu sudah hancur karena gebukan. Aduh, benarkah sebegitu bencinya orang-orang ini kepada Cina? Saya memang keturunan Cina, tapi apa salah saya dengan lahir sebagai Cina?
”Saya orang Indonesia,” kata saya dengan gemetar.
Braakk! Kap mobil digebuk. Seseorang menarik saya dengan kasar lewat jendela. Saya dilempar seperti karung dan terhempas di jalan tol.
”Sialan! Mata lu sipit begitu ngaku-ngaku orang Indonesia!” Pipi saya menempel di permukaan bergurat jalan tol. Saya melihat kaki-kaki lusuh dan berdaki yang mengenakan sandal jepit, sebagian tidak beralas kaki, hanya satu yang memakai sepatu. Kaki-kaki mereka berdaki dan penuh dengan lumpur yang sudah mengering.
”Berdiri!” Saya berdiri, hampir jatuh karena sepatu uleg saya yang tinggi. Saya melihat seseorang melongok ke dalam mobil. Membuka-buka laci dashboard, lantas mengambil tas saya. Isinya ditumpahkan ke jalan. Berjatuhanlah dompet, bedak, cermin, sikat alis, sikat bulu mata, lipstik, HP, dan bekas tiket bioskop yang saya pakai nonton bersama pacar saya kemarin. Dompetnya segera diambil, uangnya langsung dibagi-bagi setengah rebutan. Sejuta rupiah uang cash amblas dalam sekejap. Tidak apa-apa. Mobil masih bisa dikendarai dengan kaca pecah, dan saya tidak perlu uang cash. Di dalam dompet ada foto pacar saya. Orang yang mengambil dompet tadi mengeluarkan foto itu, lantas mendekati saya.
”Kamu pernah sama dia?”
Saya diam saja. Apa pun maksudnya saya tidak perlu menjawabnya.
Plak! Saya ditampar. Bibir saya perih. Barangkali pecah.
”Jawab! Pernah kan? Cina-cina kan tidak punya agama!” Saya tidak perlu menjawab.
Bug! Saya ditempeleng sampai jatuh.
Seseorang yang lain ikut melongok foto itu.
”Huh! Pacarnya orang Jawa!” Saya teringat pacar saya. Saya tidak pernah peduli dia Jawa atau Cina, saya cuma tahu cinta.
”Periksa! Masih perawan atau tidak dia!” Tangan saya secara refleks bergerak memegang rok span saya, tapi tangan saya tidak bisa bergerak. Ternyata sudah ada dua orang yang masing-masing memegangi tangan kanan dan tangan kiri saya. Terasa rok saya ditarik. Saya menyepak-nyepak. Lagi-lagi dua pasang tangan menangkap kedua kaki saya.
”Aaaahhh! Tolongngng!” Saya menjerit. Mulut saya dibungkam telapak kaki berdaki. Wajah orang yang menginjak mulut saya itu nampak dingin sekali. Berpuluh-puluh tangan menggerayangi dan meremas-remas tubuh saya.
”Diem lu Cina!” Rok saya sudah lolos….
***
Wanita itu menangis. Mestinya aku terharu. Mestinya. Setidaknya aku bisa terharu kalau membaca roman picisan yang dijual di pinggir jalan. Tapi, menjadi terharu tidak baik untuk seorang petugas seperti aku. Aku harus mencatat dengan rinci, objektif, deskriptif, masih ditambah mencari tahu jangan-jangan ada maksud lain di belakangnya. Aku tidak boleh langsung percaya, aku harus curiga, sibuk menduga kemungkinan, sibuk menjebak, memancing, dan membuatnya lelah supaya cepat mengaku apa maksudnya yang sebenarnya. Jangan terlalu cepat percaya kepada perasaan. Perasaan bisa menipu. Perasaan itu subjektif. Sedangkan aku bukan subjek di sini. Aku cuma alat. Aku cuma robot. Taik kucing dengan hati nurani. Aku hanya petugas yang membuat laporan, dan sebuah laporan harus sangat terinci bukan?
”Setelah celana dalam kamu dicopot, apa yang terjadi?”
Dia menangis lagi. Tapi masih bercerita dengan terputus-putus. Ternyata susah sekali menyambung-nyambung cerita wanita ini. Bukan hanya menangis. Kadang-kadang dia pingsan. Apa boleh buat, aku harus terus bertanya.
”Saya harus tahu apa yang terjadi setelah celana dalam dicopot, kalau kamu tidak bilang, apa yang harus saya tulis dalam laporan?”
***
Saya tidak tahu berapa lama saya pingsan. Waktu saya membuka mata, saya hanya melihat bintang-bintang. Di tengah semesta yang begini luas, siapa yang peduli kepada nasib saya? Saya masih terkapar di jalan tol. Angin malam yang basah bertiup membawa bau sangit. Saya menengok dan melihat BMW saya sudah terbakar. Rasanya baru sekarang saya melihat api dengan keindahan yang hanya mewakili bencana. Isi tas saya masih berantakan seperti semula. Saya melihat lampu HP saya berkedip-kedip cepat, tanda ada seseorang meninggalkan pesan.
Saya mau beranjak, tapi tiba-tiba selangkangan saya terasa sangat perih. Bagaikan ada tombak dihunjamkan di antara kedua paha saya. O, betapa pedihnya hati saya tidak bisa saya ungkapkan. Saya tidak punya kata-kata untuk itu. Saya tidak punya bahasa. Saya hanya tahu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk urusan bisnis. Kata orang, bahasa Cina sangat kaya dalam hal menggambarkan perasaan, tapi saya tidak bisa bahasa Cina sama sekali dari dialek manapun, kecuali yang ada hubungannya dengan harga-harga. Saya cuma seorang wanita Cina yang lahir di Jakarta dan sejak kecil tenggelam dalam urusan dagang. Saya bukan ahli bahasa, bukan pula penyair. Saya tidak tahu apakah di dalam kamus besar Bahasa Indonesia ada kata yang bisa mengungkapkan rasa sakit, rasa terhina, rasa pahit, dan rasa terlecehkan yang dialami seorang wanita yang diperkosa bergiliran oleh banyak orang –karena dia seorang wanita Cina. Sedangkan pacar saya saja begitu hati-hati bahkan hanya untuk mencium bibir saya. Selangkangan saya sakit, tapi saya tahu itu akan segera sembuh. Luka hati saya, apakah harus saya bawa sampai mati? Siapakah kiranya yang akan membela kami? Benarkah kami dilahirkan hanya untuk dibenci?
Saya tidak bisa bergerak sampai seorang ibu tua datang terbungkuk-bungkuk. Dia segera menutupi tubuh saya dengan kain.
”Maafkan anak-anak kami,” katanya, ”mereka memang benci dengan Cina.”
Saya tidak sempat memikirkan arti kalimat itu. Saya bungkus tubuh saya dengan kain, dan tertatih-tatih menuju tempat di mana isi tas saya berserakan. Saya ambil HP saya, dan saya dengar pesan Papa: ”Kalau kamu dengar pesan ini, mudah-mudahan kamu sudah sampai di Hong Kong, Sydney, atau paling tidak Singapore. Tabahkanlah hatimu Clara. Kedua adikmu, Monica dan Sinta, telah dilempar ke dalam api setelah diperkosa. Mama juga diperkosa, lantas bunuh diri, melompat dari lantai empat. Barangkali Papa akan menyusul juga. Papa tidak tahu apakah hidup ini masih berguna. Rasanya Papa ingin mati saja.”
***
Dia menangis lagi. Tanpa airmata. Kemudian pingsan. Kudiamkan saja dia tergeletak di kursi. Ia hanya mengenakan kain. Seorang ibu tua yang rumahnya berada di kampung di tepi jalan tol telah menolongnya. ”Dia terkapar telanjang di tepi jalan,” kata ibu tua itu. Aku sudah melaporkan soal ini kepada pimpinanku. Lewat telepon dia berteriak, ”Satu lagi! Hari ini banyak sekali perkara beginian.
Tahan dia di situ. Jangan sampai ada yang tahu. Terutama jangan sampai ketahuan wartawan dan LSM!” Pesuruh kantor membaukan PPO ke hidungnya. Matanya melek kembali.
”Jadi kamu mau bilang kamu itu diperkosa?”
Dia menatapku.
”Padahal kamu bilang tadi, kamu langsung pingsan setelah … apa itu … rok kamu dicopot?”
Dia menatapku dengan wajah tak percaya.
”Bagaimana bisa dibuktikan bahwa banyak orang memperkosa kamu?”
Kulihat di matanya suatu perasaan yang tidak mungkin dibahasakan. Bibirnya menganga. Memang pecah karena terpukul. Tapi itu bukan berarti wanita ini tidak menarik. Pastilah dia seorang wanita yang kaya. Mobilnya saja BMW. Seorang wanita eksekutif. Aku juga ingin kaya, tapi meskipun sudah memeras dan menerima sogokan di sana-sini, tetap begini-begini saja dan tidak pernah bisa kaya. Naik BMW saja aku belum pernah. Aku memang punya sentimen kepada orang-orang kaya –apalagi kalau dia Cina. Aku benci sekali. Yeah. Kainnya melorot, dan tampaklah bahunya yang putih….
”Jangan terlalu mudah menyebarkan isyu diperkosa. Perkosaan itu paling sulit dibuktikan. Salah-salah kamu dianggap menyebarkan fitnah.”
Di matanya kemarahan terpancar sekejap. Bahwa dia punya nyali untuk bercerita, memang menunjukkan dia wanita yang tegar.
”Saya mau pulang,” ia berdiri. Ia hanya mengenakan kain yang menggantung di bahu. Kain itu panjangnya tanggung, kakinya yang begitu putih dan mulus nampak telanjang.
”Kamu tidur saja di situ. Di luar masih rusuh, toko-toko dibakar, dan banyak perempuan Cina diperkosa.”
”Tidak, saya mau pulang.”
”Siapa mau mengantar kamu dalam kerusuhan begini. Apa kamu mau pulang jalan kaki seperti itu? Sedangkan pos polisi saja di mana-mana dibakar.”
Dia diam saja.
”Tidur di situ,” kutunjuk sebuah bangku panjang, ”besok pagi kamu boleh pulang.”
Kulihat dia melangkah ke sana. Dalam cahaya lampu, lekuk tubuhnya nampak menerawang. Dia sungguh-sungguh cantik dan menarik, meskipun rambutnya dicat warna merah. Rasanya aku juga ingin memperkosanya. Sudah kubilang tadi, barangkali aku seorang anjing, barangkali aku seorang babi — tapi aku mengenakan seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya. Masalahnya: menurut ilmu hewan, katanya binatang pun tidak pernah memperkosa.
Tentu saja tentang yang satu ini tidak perlu kulaporkan kepada pimpinan. Hanya kepadamu aku bisa bercerita dengan jujur, tapi dengan catatan — semua ini rahasia. Jadi, jangan bilang-bilang.

Tuesday, April 9, 2013

Legenda Puteri Hijau

Abad 15 dan 16 adalah periode paling berdarah di zona dataran rendah Aceh, Sumatra Timur, dan semenanjung Malaysia. Empat kerajaan saling bantai, berkonspirasi, dan saling menaklukkan untuk memperebutkan kekuasaan pada zona perdagangan internasional yang kini dikenal dengan Selat Malaka. Di tengah kecamuk perebutan kue ekonomi itu, pada tepian sungai Deli--tepatnya sekitar 9 km dari Labuhan Deli--lahirlah sebuah legenda klasik bernama Puteri Hijau. Legenda Sang Puteri yang selalu digambarkan dengan segala kosa kata kecantikan, bertahan hingga kini dalam dua versi. Versi pertama berasal dari catatan sejarah yang mirip cerita lisan yang berkembang di masyarakat Melayu Deli.

Versi kedua adalah hikayat dari masyarakat Karo. Keduanya bertentangan dan kelihatan sekali saling berlomba menonjolkan identitas dan ego suku masing-masing. Dari versi lisan Melayu, konon pernah lahir seorang puteri yang sangat cantik jelita di desa Siberaya, dekat hulu sungai Petani (sungai Deli). Kecantikannya memancarkan warna kehijauan yang berkilau dan menjadi kesohor ke berbagai pelosok negeri, mulai dari Aceh, Malaka, hingga bagian utara pulau Jawa. Ia kemudian dinamai Puteri Hijau. Dalam hikayatnya, Sang Puteri memiliki dua saudara kembar yang dipercaya adalah seekor naga bernama Ular Simangombus dan sebuah meriam bernama Meriam Puntung.

Alkisah, Ular Simangombus memiliki selera makan yang luar biasa. Ia digambarkan seakan tidak pernah kenyang. Rakyat Siberaya akhirnya tidak sanggup lagi menyediakan makanan untuk naga ini, sehingga Sang Puteri bersama kedua saudaranya memutuskan pindah ke hilir sungai dan menetap di sebuah perkampungan baru yang sekarang dikenal dengan nama Deli Tua. Di sini, para pengikutnya membangun benteng yang kuat. Dengan demikian, negeri itu cepat makmur. Kecantikan Sang Puteri yang menyebar seperti kabar burung ke segala penjuru, suatu ketika mendarat di telinga Raja Aceh. Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim.

Pantun bersahut-sahutan. Tapi pinangan ini ditolak dan membuat Raja Aceh betul-betul dilanda murka. Ia merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau. Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya. Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang terbunuh, panglima-panglima perang Aceh memakai siasat baru. Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan uang emas ke arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang. Suasana menjadi tidak terkendali karena para penjaga benteng itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya.

Ketika mereka tengah sibuk memunguti uang logam, tentara Aceh menerobos masuk dan dengan mudah menguasai benteng. Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang saudara Puteri Hijau, yaitu Meriam Puntung. Tapi karena ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak, terlontar, dan terputus dua. Bagian moncongnya tercampak ke kampung Sukanalu. Sedangkan bagian sisanya terlontar ke Labuhan Deli, dan kini ada di halaman Istana Maimoon Medan. Melihat situasi yang tak menguntungkan, Ular Simangombus, saudara Sang Puteri lainnya, menaikkan Puteri Hijau ke atas punggungnya dan menyelamatkan diri melalui sebuah terusan (Jalan Puteri Hijau), memasuki sungai Deli, dan langsung ke Selat Malaka.


Dan hingga sekarang kedua kakak beradik ini dipercaya menghuni sebuah negeri dasar laut di sekitar Pulau Berhala. Namun sebuah anak legenda menyebutkan bahwa Puteri Hijau sebenarnya sempat tertangkap. Ia ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri Hijau memohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, ia diberikan berkarung-karung beras dan beribu-ribu telur. Tetapi baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang maha dahsyat, disusul gelombang yang tinggi dan ganas. Dari perut laut muncul jelmaan saudaranya, Ular Simangombus, yang dengan rahangnya mengambil peti tempat adiknya dikurung. Lalu Puteri Hijau dilarikan ke dalam laut dan mereka bersemayam di perairan pulau Berhala. Menurut cerita ini, saudara-saudara Puteri Hijau adalah manusia-manusia sakti yang masing-masing bisa menjelma menjadi meriam dan naga. Memang, cerita lisan selalu mewariskan banyak versi sesuai selera masing-masing penceritanya.

***

Dalam bukunya, Sejarah Medan Tempo Doeloe, sejarahwan Tengku Luckman Sinar mencoba menempatkan legenda Puteri Hijau sebagai salah satu setting sejarah perlawanan Kerajaan Haru yang berpusat di Deli Tua terhadap serangan Kerajaan Aceh, sekaligus juga menjadi latar proses terbentuknya etnis Melayu di Sumatra Timur. Nama Kerajaan Haru sudah dikenal sejak akhir abad 13. Bukti tertulis pertama yang mengabadikan kerajaan ini adalah catatan Tiongkok pada tahun 1282 M, tepatnya pada zaman pemerintahan Kubilai Khan. Catatan itu mengisahkan, Kerajaan Haru mengirimkan utusannya untuk misi dagang ke Tiongkok. Sedang berdasarkan hikayat Melayu dan hikayat Raja-raja Pasai, Kerajaan Haru sudah menganut Islam sejak pertengahan abad 13. Disebutkan, nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad mula-mula mengislamkan negeri Fansuri (Barus), Lamiri (Lamuri), lalu Haru. Kerajaan Samudera Pasai dan Malaka sendiri diislamkan kemudian.

Jadi, dari hikayat ini, Kerajaan Haru lebih dulu memeluk Islam ketimbang Aceh dan Malaka, meskipun kemudian Malakalah yang menjadi pusat pengembangan Islam di kawasan Nusantara. Pada masa tersebut, Kerajaan Haru sudah menjadi salah satu pemegang peranan penting dalam wilayah perdagangan dunia di Selat Malaka. Pedagang-pedagang Persia, Portugis, Cina dan Eropa punya catatan masing-masing tentang wilayah ini, di mana Haru adalah salah satu kerajaan yang memungut pajak di samping Samudera Pasai dan Malaka yang kemudian dijajah Portugis. Sebelum akhirnya diserang Kerajaan Sriwijaya yang ingin mempersatukan Nusantara pada tahun 1275 M, Kerajaan Haru memiliki satu bandar perdagangan besar di Kota Cina, yang letaknya antara sungai Deli dan sungai Buluh Cina.

Saat itu, Haru sudah memiliki hubungan bisnis yang erat dengan Dinasti Sung Selatan. Kapal-kapal Tiongkok langsung mendatangi bandar ini untuk melakukan perdagangan. Tak heran bila para peneliti masih menemukan sejumlah koin mata uang Cina kuno di kawasan ini. Setelah bandar perdagangan Haru dihancurkan Sriwijaya dalam “Ekspedisi Pamalayu”, masa pemulihannya tak begitu lama. Karena potensialnya kawasan ini, bandar kembali ramai dan perdagangan dengan Tiongkok terus berlangsung. Kerajaan Haru malah kian berkembang pasca penaklukan Sriwijaya. Pedagang Persia, Fadiullah bin Abdul Khadir Rasyiuddin dalam bukunya “Jamiul Tawarikh” menjelaskan, negeri-negeri utama di Sumatera pada tahun 1310 M adalah Lamuri, Samudera Pasai, Barlak (Perlak), Dalmyan (Temiang) dan Haru. Tapi musibah kedua menimpa Haru ketika tentara Kerajaan Majapahit pada tahun 1350 M juga tiba dan menaklukkan daerah ini.

Dalam kronik Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca disebut bahwa di samping Panay (Kerajaan Pane di Portibi), juga ditaklukkan Kampe (Kompai) dan Harw (Haru). Di hulu sungai Ular, masih ada kampung bernama “Kota Jawa” dan “Timbun Tulang” yang menurut legenda di teluk Haru menunjukkan adanya lokasi penimbunan tulang tentara Majapahit yang mati diracuni gadis-gadis setempat. Setelah lepas dari cengkeraman Majapahit, Haru kembali berhubungan dengan Tiongkok. Pada tahun 1412 M, Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Tiongkok mengunjungi pulau-pulau di nusantara, singgah di Haru. Kunjungan itu mencatat bahwa penguasa Haru kala itu bernama Tuanku Alamsyah, putra dari Sultan Husin (raja sebelumnya).


Cheng Ho, laksamana legendaris dari Tiongkok, mengangkut persembahan Haru untuk Tiongkok. Tercatat dua kali Cheng Ho singgah di Haru. Setelah itu ia tak pernah muncul lagi karena Tiongkok juga bergolak oleh perang dinasti yang tiada henti. Sepanjang masa kejayaannya, Kerajaan Haru, Samudera Pasai dan Malaka (Portugis) adalah tiga serangkai yang kadang berdamai dan kadang saling bertikai memperebutkan peranan di perairan Selat Malaka. Menurut sejarah Melayu, pada tahun 1477 M sampai 1488, Haru menaklukkan Kerajaan Pasai gara-gara sebuah penghinaan yang dilakukan Raja Pasai terhadap utusan Raja Haru. Tapi Kerajaan Pasai kemudian dibantu Malaka, sehingga kerajaan ini juga otomatis menjadi musuh Haru. Tapi ketika Raja Malaka diusir Portugis ke Johor, Raja Haru juga bersahabat dengannya sehingga membuat iri Kerajaan Aceh.

Pada pertengahan abad 15 itu, Haru disebut-sebut juga punya niat menghancurkan Pasai di utara dan Malaka di selatan untuk mengambil alih posisi Sriwijaya zaman dulu. Tapi niat itu tidak pernah terwujud. Malah Kerajaan Haru terjebak posisi sulit dan tidak aman karena dikelilingi musuh. Untuk membuat pertahanan yang kuat, mereka meninggalkan Kota Cina dan ibu kota Haru naik lagi ke atas sungai Deli.

Pada tahun 1511 M, Portugis menguasai Malaka dan memperoleh keuntungan besar dari lalu lintas perdagangan di Selat Malaka. Tapi kemudian Kerajaan Pasai membangun sebuah bandar perdagangan tandingan di Sabang dengan pajak lebih rendah dan pelayanan yang lebih bagus. Portugis yang marah-marah, dimanfaatkan Kerajaan Haru untuk bersama-sama menyerang Pasai pada tahun 1514 M. Tapi di Pasai, Portugis diusir oleh imperium Aceh yang baru lahir. Haru sendiri makin rawan, dan terpaksa memindahkan kerajaannya makin ke pedalaman. Haru adalah kerajaan besar. Kekuasaannya membentang dari Sungai Rokan hingga Temiang (Aceh Tamiang). Tapi mengapa sejarahnya seperti tidak meninggalkan bekas? Satu teori mengatakan, kerajaan yang dibangun oleh etnis bermarga Karo Sekali (Karo asli) ini tidak memiliki satu proyek kebudayaan selama masa kekuasaannya.

Meskipun memeluk Islam, tapi mereka bukanlah pusat pengembangan Islam. Ini berbeda dengan Malaka, Pasai, Sriwijaya, atau Majapahit, yang masing-masing memang mengembangkan satu pusat pengetahuan dan intelektualisme yang ditandai adanya tradisi penulisan sejarah. Sebaliknya, Kerajaan Haru tidak memiliki catatan yang berarti, sehingga keberadaannya sempat tenggelam dalam teka-teki yang sulit. Sejumlah catatan menyebutkan Haru sebagai kerajaan bar-bar yang suka bertempur dan membajak kapal-kapal asing di Selat Malaka. Penulis Portugis, Tome Pires, menggambarkan Haru sebagai kerajaan terbesar di Sumatera. Rakyatnya banyak, tetapi tidak kaya karena perdagangan. Mereka memiliki kapal-kapal kencang dan sangat terkenal karena daya penghancurnya.

Sejak Malaka lahir, Kerajaan Haru selalu menjadi musuh bebuyutan orang Malaka dan sangat ditakuti. Mereka merampas rakyat malaka. Tiba-tiba saja orang-orang Haru menyergap sebuah kampung dan mengambil segala yang berharga. Rakyat Haru disebut suka berperang. Haru banyak menghasilkan padi, daging, ikan, buah-buahan, arak, kapur barus berkualitas tinggi, emas, benzoin, aphotecary’s ignaloes, rotan, lilin, madu, budak-budak, dan sedikit saja yang pedagang. Mereka memperoleh barang dagangan melalui Pasai, Pedir, Fansuri dan Minangkabau. Bahkan Haru memiliki sebuah kota pasar budak yang disebut Arqat (Rantauperapat sekarang). Setelah imperium Aceh bangkit di akhir kejayaan Pasai, keberadaan Haru makin terancam. Negeri Aceh yang dulu berulangkali diserangnya ternyata mampu menyatukan diri di bawah Sultan Aceh bernama Al Qahhar.

Selama abad 16, giliran Sultan Aceh yang berkali-kali menyerang Haru, sampai akhirnya Haru takluk dan diperintah oleh perwakilan dan kepercayaan Sultan Aceh bernama Gocah Pahlawan yang dipercaya sebagai keturunan Raja India yang merantau ke Nusantara. Gocah Pahlawan adalah penakluk Haru dan pendiri cikal-bakal Kerajaan Deli. Lalu siapa sebenarnya etnis Melayu? Pada saat kapan legenda Puteri Hijau muncul? Cerita ini menjadi kian menarik.

***

Legenda Puteri Hijau, bila dikaitkan dengan sejarah Kerajaan Haru, terbit ketika kerajaan itu sedang sengit-sengitnya mempertahankan diri dari serangan Imperium Aceh yang baru terbentuk di bawah Al Qahhar. Mundur ke belakang sedikit, menurut sejarah Melayu, nama Sultan Haru pada tahun 1477-1488 M adalah Maharadja Diraja, putera Sultan Sujak yang turun dari “Batu Hilir dikata Hulu, Batu Hulu dikata Hilir”. Mungkin pada kalimat itu, yang dimaksudkan adalah “Batak Hilir dikata Hulu, Batak Hulu dikata Hilir”. Kata “Batak” sengaja dihilangkan karena maknanya bisa mengandung penghinaan, mengingat nama “Batak” pada saat itu menunjuk pada pengertian “terbelakang”, orang-orang pedalaman di gunung yang belum memeluk Islam. Jadi, orang Haru awalnya berasal dari pegunungan, turunan Batak, yang kemudian masuk Islam menjadi Melayu.


Dengan kata lain, sebagaimana yang disimpulkan Tengku Luckman Sinar, etnis Melayu sebenarnya bukan sebuah ikatan genealogis (ras), tetapi ikatan kultur dan agama. Pada masa itu, yang disebut Melayu adalah semua orang yang masuk Islam. “Jadi, Melayu sekarang adalah percampuran dari banyak suku, seperti Batak, India, Aceh, dan masyarakat Johor di Riau. Ikatannya pada kultur dan agama,” jelas Luckman. Orang-orang Haru yang turun pertama sekali ke dataran rendah dan memeluk Islam menamakan dirinya Karo Sekali (Karo asli) yang kemudian menjadi marga tersendiri. Marga itu masih ditemui di Desa Siberaya, dekat Delitua.

Kata “Haru” sendiri kemungkinan besar adalah sebutan untuk orang Karo asli ini. Mereka tidak mau disamakan dengan marga-marga Karo sekarang yang menurut mereka adalah golongan Karo-Karo (bukan asli). Orang Karo-Karo seperti Tarigan, Sembiring, Perangin-angin, Sitepu, dan Ginting, baru turun ke Deli pada awal abad 17 dan membentuk “urung-urung” (daerah kekuasaan berdasarkan marga dan ikatan keluarga). Penduduk asli Asahan juga mengaku berasal dari marga Haro-Haro (Karo-Karo). Sementara di Temiang, Rokan, dan Panai, masih ditemukan suku Haru. Sebagian dari Karo-Karo ini masuk Islam (jadi Melayu) dan bersama-sama orang Aceh menyebarkan agamanya sampai ke lereng pegunungan. Mereka juga menikah dengan orang-orang pesisir dan Aceh.

Bahkan, marga Sembiring konon adalah orang yang diusir dari Aceh. Nah, dari sini kita sudah bisa menggambarkan siapa sebenarnya orang Haru dan Kerajaan Haru, tempat munculnya Legenda Puteri Hijau. Seorang utusan Portugis, Ferdinand Mendes Pinto, menceritakan selintas tentang masa penyerangan Sultan Aceh Al Qahhar ke Haru di tahun 1539 M. Penyerangan Aceh itu dilakukan 2 kali, yaitu pada Januari dan November tahun yang sama. Pinto menuliskan, setelah ia berlayar 5 hari dari Malaka, ia sampai pada sungai Panetican (Deli), di mana ibukota Haru berdiri. Raja Haru saat itu sedang sibuk mempersiapkan kubu-kubu dan benteng-benteng di kiri-kanan sungai.

Letak istana kira-kira satu kilometer ke dalam. Diduga kuat, lokasi yang dimaksud adalah Delitua. Apalagi, sisa benteng itu masih dapat dilihat sekarang, dan beberapa penduduk pernah menemukan mata uang dan peluru emas milik tentara Aceh. “Haru hanya mempunyai sebuah meriam besar yang dibelinya dari seorang pelarian Portugis di Pasai. Mendengar akan sampainya armada Aceh, maka Sultan Haru menyuruh pasukannya mengungsikan wanita-wanita dan anak-anak, termasuk permaisurinya Anche Sinny (Anggi Sini atau Encik Sini) ke hutan sejauh 39 km dari ibukota. Kerajaan Aceh banyak sekali menggunakan serdadu-serdadu bayaran dari Gujarat, Malabar, Hadramaut, Lanun, dan sebagainya,” tulis Pinto.


Setelah dikepung 17 hari, orang Aceh berhasil menghancurkan dinding-dinding kubu pertahanan Haru. Tapi karena banyak korban di pihaknya, maka Aceh memakai siasat menyogok panglima-panglima Haru dengan uang emas agar mereka mau meninggalkan penjagaan di benteng utama. Dalam sebuah pertempuran sengit, Sultan Haru tewas dan Haru takluk. Permaisuri Haru, Anggi Sini, membentuk pasukan gerilya, tapi tidak berhasil merebut benteng itu kembali. Akhirnya ia bersama pengikutnya naik perahu dari sebuah sungai dan berlayar menuju Malaka. Perlu diketahui, perahu pada masa itu umumnya berlambangkan kepala naga.

Di sana ia disambut baik Gubernur Portugis, tapi tidak bersedia memberi bala bantuan untuk merebut Kerajaan Haru. Diam-diam permaisuri bertolak ke Bintan dan menjumpai Raja Melayu Riau-Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II, putera almarhum Raja Malaka Sultan Mahmudsyah. Permaisuri Haru disambut baik dan Johor bersedia membantunya merebut benteng Haru dengan satu syarat, Permaisuri Haru bersedia menikah dengannya. Syarat tersebut bisa jadi membuktikan bagaimana menarik dan cantiknya Anggi atau Encik Sini, seorang gadis Karo dari Desa Siberaya. Akhirnya Haru dapat direbut kembali dari Aceh. Cerita Pinto ini banyak persamaannya dengan Legenda Puteri Hijau, baik dari segi tahunnya maupun simbol-simbol legendanya.

Penaklukan benteng Haru pada tahun 1539 M sama dengan penaklukan Puteri Hijau di Deli Tua yang tertuang dalam Hikayat Puteri Hijau. Kemungkinan besar Anggi atau Encik Sini adalah Puteri Hijau itu sendiri. Meriam besar satu-satunya yang dimiliki Kerajaan Haru barangkali merujuk “saudara” Puteri Hijau yang karena digunakan berkali-kali akhirnya pecah menjadi dua bagian. Sedang “saudara” naga yang dinaiki Puteri Hijau menuju Selat Malaka punya kesamaan dengan perahu berkepala naga yang dipakai Anggi atau Encik Sini.

Setelah itu, Haru masih berulang-ulang diserang Aceh hingga kemudian takluk oleh Sultan Aceh pada abad 16. Kekuasaan Aceh di Haru menandai dimulainya babak baru Kerajaan Ghuri yang kemudian berubah nama menjadi Kerajaan Deli yang kita kenal sekarang. Ketika Belanda muncul, riwayat Haru makin menghilang. Akibatnya, sampai sekarang, orang selalu sukar melihat suku Karo dan Melayu Deli dalam satu kesatuan. Padahal, bangunan Kerajaan Deli seperti Istana Maimoon saja masih jelas diwarnai oleh ornamen khas suku Karo. Lihatlah misalnya bangunan tempat Meriam Puntung di pekarangan Istana Maimoon.

***

Tapi itu adalah legenda versi Melayu. Bagi orang Karo, versi kepahlawanan Sang Puteri justru dianggap mengada-ada. Pak Sitepu yang saat ini menjaga perigi yang dipercaya sebagai tempat pemandian Puteri Hijau menyebut wanita rupawan itu sebagai aib bagi warga Karo, khususnya Desa Siberaya. Puteri Hijau yang kemudian dinobatkan sebagai boru Sembiring lahir tanpa ayah. Sebagian orang menyebut ibunya kawin dengan makhluk gaib, sebagian lagi menuduhnya berzinah. Karena menanggung aib, Puteri Hijau yang dipercaya lahir bersama sebuah meriam dan seekor naga, akhirnya memilih pergi dari Siberaya dan menetap di sebuah pemukiman baru di daerah Delitua.


Sampai kini, tempat pemandian Sang Puteri masih dijaga dan dikeramatkan. Orang-orang Tionghoa, beberapa keluarga Kerajaan Deli, dan masyarakat yang meminta sesuatu, masih acap datang berziarah ke perigi yang memiliki sumber mata air jernih dan tiada pernah habis ini. Menurut orang Karo, sesungguhnya mereka adalah penduduk pertama di pesisir timur, sedang orang Melayu dan Aceh adalah kaum pendatang. “Kalau kami pendatang, kenapa warga Karo yang justru lebih banyak bermukim di Padangbulan, Delitua, Langkat, dan daerah pesisir lainnya?” ujar Pak Sitepu.

Ia juga menyebutkan bahwa nama-nama di daerah pesisir seperti Belawan dan Medan adalah nama-nama Karo. Belawan dulunya berasal dari “perbelawanan” yang artinya tempat bersumpah. Di sini orang-orang melakukan sumpah untuk tidak berbuat sesuatu yang jahat atau melanggar adat. Dulunya, masih kata Sitepu, banyak orang Karo yang diusir ke daerah pesisir karena melanggar adat di kampungnya, semisal kawin semarga. Orang-orang tersebut kemudian berkembang di daerah pesisir, bergaul dengan para pendatang dari Malaka. Mereka menghilangkan marganya karena malu, dan baru belakangan memakainya kembali. Sehingga tidak heran bila di pesisir Langkat, Labuhan Batu dan Tanjungbalai, muncul marga-marga Batak yang sebelumnya tidak disebut-sebut.

Di tengah warga Karo sendiri, cerita tentang Puteri Hijau masih terbagi dalam banyak anak versi. Tapi secara umum, mereka melihat Sang Puteri dari kaca mata negatif dan merasa bahwa menceritakan legenda Puteri Hijau sama dengan membuka aib sendiri. Dari sudut pandang ilmu sejarah, cerita lisan versi Karo memang lebih sulit diterima akal karena tidak memiliki logika runtut sebagaimana yang dilansir Tengku Luckman Sinar. Namun terlepas dari kontroversi masa lalu yang sudah sarat dengan kepentingan identitas, warga Karo dan Melayu masih sama-sama menghidupkan Legenda Puteri Hijau di hati masing-masing. Perigi Puteri Hijau saat ini dijaga oleh penduduk Kampung Delitua yang seluruhnya adalah orang Karo. Perkampungan tua ini terletak sekitar 1,5 km dari Pajak Delitua.

Untuk mencapainya, kita harus melewati sebuah titi gantung yang menghubungkan kedua bibir sungai Deli. Selain perigi Puteri Hijau, kampung ini juga dikelilingi benteng berupa lubang besar yang di sisinya ditanami rumpun-rumpun bambu. Konon,desa ini tak pernah takluk pada Belanda ketika Kerajaan Melayu Deli sudah menjalin kerjasama dengan Belanda. Hal itu ditandai dengan tiadanya tanaman bakau di kawasan Kampung Delitua. Padahal pengusaha Belanda, Nienhuys, hampir menguasai seluruh areal penanaman tembakau waktu itu. Tapi bagaimanapun masa lalu Puteri Hijau yang sebenarnya, ada atau tidak pernah ada, sekeras apa kontroversinya, itu semua justru memperkaya hikmah yang dikandungnya. Dan yang terpenting, legendanya adalah sebuah aset wisata.

Intel Kembangkan Tablet Fleksibel Seperti Kertas

Tidak bisa pecah. Apa saja keunggulannya.

PapertabsTiga perusahaan yang digawangi oleh Intel tengah mengembangkan sebuah tablet serupa kertas. Memiliki bentuk yang fleksibel, kaca tablet ini diklaim tidak akan bisa pecah.

Bekerja sama dengan Universitas Queen di Kanada dan perusahaan Plastic Logic, Intel memperkenalkan "Papertabs", tablet setipis kertas. Tidak hanya berfungsi sebagai ebook, tablet ini juga bisa menjalankan berbagai aplikasi.

PaperTab hadir dengan layar plastik resolusi tinggi ukuran 10,7 inchi yang dikembangkan oleh Plastic Logic. Layar sentuh fleksibel, dan didukung oleh Prosesor Intel generasi kedua CoreTM i5. Pengguna dianjurkan memiliki beberapa Papertab.

"Menggunakan beberapa PaperTabs membuat layar lebih mudah untuk bekerja dengan beberapa dokumen," kata Roel Vertegaal, Direktur Laboratorium Human Media Universitas Queen seperti dilansir Dailymail, Selasa 8 januari 2013.

Saat digunakan membaca ebook, pengguna hanya tinggal menekuk layarnya yang lentur. Saat akan mengirimkan foto, cukup hanya menekan salah satu Papertabs yang menunjukkan draft email dan Papertab lain yang menunjukkan foto.

Intel mengklaim teknologi ini dapat mengganti layar tradisional. "Dalam waktu lima sampai sepuluh tahun, kebanyakan komputer, dari ultrabook, notebook sampai tablet, akan terlihat dan terasa seperti lembar kertas warna seperti ini," kata Ryan Brotman, Research Scientist di Intel.

Layar ini direncanakan akan diluncurkan pada pameran Consumer Electronics Show di Las Vegas, Amerika Serikat yang digelar 8-11 Januari 2013.

Monday, April 1, 2013

Misteri Wanita "Perjalanan Waktu", Pakai Ponsel di Tahun 1938

Padahal tahun itu belum ada telepon nirkabel. Misteri akhirnya terkuak

VIVAnews - Sebuah video tahun 1938  membuat heboh mengakses YouTube. Video tersebut memperlihatkan seorang wanita sedang berbicara menggunakan perangkat nirkabel. Kejadian itu memicu teori konspirasi kalau wanita itu telah melakukan perjalanan waktu. Karena, pada tahun 1938 belum ada teknologi telepon nirkabel.

Namun, misteri tentang siapa wanita yang menggunakan ponsel pada tahun 1938 terpecahkan. Seorang pria mengklaim kalau wanita yang ada di film itu adalah neneknya.

Video YouTube yang menampilkan perempuan sedang menggunakan ponsel pada tahun 1938 itu diberi judul "Time traveler in 1938" dan sudah dilihat oleh ratusan ribu orang.

Di video, wanita berambut ikal itu terlihat sedang berjalan dengan teman-temannya. Wanita itu terlihat menempelkan benda mirip ponsel modern kanannya di kuping dan sedang serius mengobrol.

Tapi, beberapa hari terakhir seorang pengguna YouTube bernama 'Planetcheck' mengklaim telah memecahkan misteri tentang seseorang yang melakukan perjalanan waktu.

Planetcheck mengatakan, wanita yang ada di video itu adalah neneknya yang bernama Gertrude Jones. "Saya bertanya kepada nenek saya tentang adegan di film itu dan ia ingat dengan kejadian itu," kata Planetcheck, dilansir Daily Mail, 1 April 2013.

Ia menjelaskan, saat itu neneknya berusia 17 tahun. Dia mengatakan pengambilan gambar itu dilakukan di sebuah perusahaan telekomunikasi bernama Dupont.

"Nenek saya mengatakan kalau saat itu Dupont sedang bereksperimen dengan telepon nirkabel. Gertrude dan lima perempuan lainnya diberikan telepon nirkabel untuk diuji selama satu minggu," jelasnya.

Planetcheck juga menyampaikan, saat neneknya tertangkap kamera, ia memang sedang menelepon. Neneknya mengaku sedang berbicara dengan salah satu peneliti yang juga menggunakan ponsel.

Teori konspirasi menganggap kalau di tahun 1938 belum ada teknologi yang dapat berkerja tanpa bantuan kabel. Namun, dari pengakuan ini menunjukkan bahwa teknologi telepon nirkabel sudah ada sejak tahun 1938. (umi)

Friday, March 22, 2013

Apa Saja yang Terjadi di Internet Dalam 1 Menit?

  Sekitar 204 juta e-mail dikirim, 1,3 juta klip video YouTube ditonton.
  VIVAnews - Akses Internet sudah menjadi nafas bagi lebih dari 2,5 miliar masyarakat di dunia saat ini.

  Tentu seru membayangkan bagaimana sibuknya lalu lintas akses Internet yang dilakukan oleh para penggunanya dari segala penjuru dunia.

  Jika Anda ingin melihat fakta lalu lintas Internet, studi baru yang dikeluarkan produsen chip Intel cukup menggambarkannya, dan disuguhkan  dalam statistik yang luar biasa.

Setiap menit, Intel menemukan lebih dari 204 juta e-mail dikirim, 47 ribu aplikasi diunduh, sekitar 20 juta foto serta 6 juta halaman Facebook dilihat oleh pengguna Internet, dan 1,3 juta klip video YouTube ditonton.
Dailymail melansir, 20 maret 2013, studi tersebut juga memaparkan hampir 640 GB data IP global ditransfer hanya dalam satu menit.

"Komputasi telah menyentuh masyarakat dalam jangkauan yang lebih luas berkat perangkat mobile," ujar Krystal Temple dari Intel.

Peningkatan penetrasi perangkat mobile mendorong dampak yang luar biasa pada jumlah trafik data lintas jaringan.

"Aktivitas mendengarkan musik, menonton video, mengunduh foto, bermain game online, memantau update status di Twitter, semuanya adalah kegiatan yang tercatat di lalu lintas jaringan," ujarnya.

Penelitian ini juga meneropong di masa mendatang, di mana data akan berkembang secara dramatis. Di tahun 2015, studi ini meramalkan jumlah perangkat akan berjumlah dua kali lipat populasi dunia.

Temple juga mengungkapkan, Intel sedang mengembangkan peralatan jaringan baru untuk merespons peningkatan lalu lintas Internet.

Crystal Forest adalah nama kode perangkat yang akan meningkatkan kinerja dan memperbesar keamanan jaringan untuk menangani peningkatan lalu lintas jaringan di masa depan.

"Dengan memungkinkan peralatan dan penyedia jasa untuk memberikan platform yang tumbuh bersama dengan jaringan, Intel juga membuka ruang pada konsumen untuk tetap terhubung pada perangkat cerdas setiap hari dan menit via Internet," kata Intel. (umi)

Tuesday, March 19, 2013

CINTA

Cinta ?
Apa itu cinta Tuhan ?
Sejenis anugrah kah ? sejenis karunia-Mu kah ?
Kenapa aku sampai sekarang bingung apa CINTA itu sebenar nya ?
Banyak  mereka yang merasakan indah nya cinta itu
Tapi kenapa aku tidak ?
Kenapa cinta itu hanya sebentar ku rasakan ?
Kenapa cinta itu tidak bisa melekat pada hidup ku ?
Ku lihat mereka sangat bahagia dengan cinta nya ?
Aku kenapa tidak bahagia ?
Nikmat sesaat yang ku dapat dari cinta tersebut
Salah kan aku menginginkan kebahagiaan cinta itu Tuhan ?
Salahkan aku ingin merasakan lebih lama anugrah Mu itu ?
Tuhan … aku ingin merasakan indah nya cinta itu ..
Jika aku bisa meminta …
Hanya  1 pinta ku Tuhan .. beri aku cinta yang melekat pada hidupku
Ingin sekali ku rasa kan nikmat nya cinta itu …
Itu saja pinta ku Tuhan..
Aku juga ingin seperti mereka yang tentram dan damai dengan cinta mereka masing-masing
Merasakan indah nya nikmat cinta itu ..
Tuhan …. Mau kah kau memberi cinta itu padaku ?????

Saturday, February 9, 2013

SILSILAH SIREGAR

siregar1 Marga Siregar 

Marga ialah identitas seorang Batak. Coba bayangkan, jika orang Batak tidak memiliki marga ..:)
Peran marga dalam kehidupan budaya Batak sangat penting dan berpengaruh.
Selain daripada identitas, marga juga merupakan bentuk terjemahan dan penerapan dari dalian na tolu sebagai landasan budaya Batak.
Istilah marga dapat didefinisikan sebagai kelompok orang yang berasal dari
keturunan seorang nenek moyang yang sama dan garis keturunan diperhitungkan melalui pihak
laki-laki atau ayah (patrilineal).
Pada umumnya orang Batak mengelompokkan diri mereka ke dalam beberapa marga (klan) dan tiap-
tiap marga selalu menempatkan diri mereka sebagai keturunan dari seorang tokoh nenek-moyang yang berlainan asal. Tokoh leluhur suatu marga biasanya bersifat legendaris,
dan senantiasa mereka tempatkan di awal silsilah keturunan (tarombo) mereka.
Tarombo ialah catatan tentang silsilah keturunan.Dengan adanya tarombo ini, setiap marga dapat mengetahui asal-usul dan jumlah keturunan mereka sampai
sekarang.Tarombo menjadi sumber sejarah asal-usul orang Batak di masa lalu.
Dengan tarombo, seseorang mengetahui, apakah ia harus memanggil satu sama lain dengan kahanggi (saudara semarga), namboru atau bouk (saudara perempuan Ayah),udak (paman, saudara laki-laki Ayah),
iboto atau ito (saudara perempuan), ompung, tulang, nantulang, borutulang, amangboru, amangtua, amanguda, nanguda, inangtua atau nattobang, pariban,
dan seterusnya.
Marga dan tarombo adalah warisan budaya Batak yang memiliki nilai-nilai luhur.
Menurut sejarahnya, leluhur asli suku bangsa Batak ialah Si Raja Batak yang bermukim di daerah Pusuk Buhit di kampung Sianjur Mula-Mula, di pinggiran Danau Toba, lebih kurang 8 km arah barat Kota Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir.
Si Raja Batak diperkirakan hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13).
Si Raja Batak memiliki tiga orang anak, yaitu Guru Tateabulan, Raja Isombaon, dan Toga Laut. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya marga-marga Batak.
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra— Si Raja Biak-Biak, Tuan Sariburaja, Limbong Mulana, Sagala Raja, Malau Raja— dan 4 orang putri, yaitu: Si Boru Pareme,
Si Boru Anting Sabungan, Si Boru Biding Laut, Si Boru Nan Tinjo.
Si Boru Pareme yang kawin dengan Tuan Sariburaja melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.
Si Raja Lontung yang merupakan putra pertama dari Tuan Sariburaja mempunyai 7 orang putra—Tuan Situmorang (keturunannya bermarga Situmorang), Sinaga Raja (keturunannya bermarga Sinaga), Pandiangan (keturunannya bermarga Pandiangan),
Toga Nainggolan (keturunannya bermarga Nainggolan),Simatupang (keturunannya bermarga Simatupang), Aritonang (keturunannya bermarga Aritonang), Siregar(seluruh keturunannya bermarga Siregar)—
dan 2 orang putri, yaitu: Si Boru Anakpandan yang kawin dengan Toga Sihombing, Si Boru Panggabean yang kawin dengan Toga Simamora.
Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina (Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu), Pasia Boruna Sihombing Simamora.
Siregar merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara ini.
Menurut hikayat, Si Raja Lontung bermukim di Desa Banuaraja yang terletak di daerah perbukitan sebelah atas Desa Sabulan, di pinggiran Danau Toba, berseberangan dengan Pangururan di Pulau Samosir. Pada suatu masa, terjadi banjir besar yang melanda Desa Banuaraja dan Sabulan.
Anak-anak keturunan Si Raja Lontung terpaksa mengungsi. Sinaga dan Pandiangan ke Urat-Samosir, Nainggolan ke Nainggolan-Samosir, Simatupang dan Aritonang ke Pulau Sibandang, dan Siregar ke Aeknalas-Sigaol. Sedangkan, Situmorang hanya sampai di Sabulan.
Suatu ketika Aritonang memanggil adiknya Siregar dari Aeknalas-Sigaol ke Desa Aritonang di Muara, yang akhirnya kemudian menetap dan beranak-pinak di situ. Selanjutnya dari Desa Aritonang-lah marga Siregar menyebar ke sekitar Muara.
Konon kabarnya, kemarau panjang pernah melanda Muara yang menyebabkan gagal panen sehingga beberapa keturunan marga Siregar merantau ke arah Siborongborong-Humbang dan langsung membangun kampung di sana yang diberi nama Lobu Siregar.
Untuk mencari penghidupan yang lebih baik, dari sini ada sebagian dari mereka yang menjelajah ke arah Pangaribuan dan sebagian lagi menuju Desa Sibatangkayu. Setelah bermukim beberapa lama, dari sini mereka berangkat lagi ke Bungabondar, Sipirok hingga ke Angkola-Tapanuli Selatan.
Mendengar saudara-saudaranya berhasil di perantauan, keturunan marga Siregar yang masih tinggal di Muara, akhirnya berpindah ke Tarutung-Silindung dan mendirikan kampung yang diberi nama Desa Simarlala Pansurnapitu. Dari desa itu, mereka berpindah lagi menuju Pantis-Pahae dan beranak-pinak di sini.
Keturunan marga Siregar yang dari Pantis ini menjelajah dan mendirikan kampung di Onanhasang, di sekitar Pahae. Dari Onanhasang, keturunannya merantau lagi dan mendirikan kampung di Simangumban dan Bulupayung.
Dengan demikian, penelusuran asal-muasal Toga Siregar berawal dari perjalanan panjang perantauan marga Siregar; mulai dari Banuaraja-Sabulan di Pangururan, Kabupaten Samosir, menyebar ke daerah Muara, Humbang Hasundutan (Dolok Sanggul), Pangururan, Bungabondar, Sipirok, Pahae, Simangumban, dan Bulupayung. Meskipun, ada yang berpindah-pindah,
tetapi di tiap-tiap perkampungan yang dibuat selalu ada keturunannya yang tinggal di sana, berkembang-biak dan beranak-pinak serta memiliki tanah, desa atau “huta”. Itulah sebabnya mengapa orang-orang bermarga Siregar selalu mengatakan dirinya berasal dari huta-huta tersebut.
Toga Siregar memiliki 4 orang anak (yang kemudian akan menjadi marga-marga), yaitu: Silo, Dongoran, Silali, dan Siagian.
Keempat keturunan Toga Siregar ini sering dijuluki Si Opat Ama.
      Dari keempat anak ini lahir pulalah marga-marga Siregar:
  1. Silo (dari kata Silogo-logo=nama sejenis kuda)
    Silo
    Sormin
    Baumi
  2. Dongoran
    Dongoran
    Salak
    Pahu
  3. Silali (dari kata lali=nama sejenis burung elang)
    Silali Toruan (=Ritonga)
    Silali Dolok
  4. Siagian
Marga Siregar digolongkan ke dalam subsuku Batak Angkola-Mandailing.Nama-nama marga lainnya adalah: Harahap, Hasibuan, Dalimunte, Mardia, Pulungan, Lubis, Nasution, Rangkuti, Parinduri, Daulae, Matondang, Batubara, Tanjung
dan Lintang.
Marga Siregar yang umumnya bermukim di daerah Tapanuli Selatan berada di wilayah Angkola (Padangsidempuan dan sekitarnya), Batangtoru, Mandailing (Panyabungan—Kotanopan), Padang Lawas
(Gunung Tua dan sekitarnya), Sibuhuan, dan Sipirok.
Orang-orang bermarga Siregar ini pun sudah berbaur maupun kawin campur antarsubkultur dan menyebar ke seluruh pelosok nusantara dan seantero dunia.

termasuk siregar apaa kalian? kalau citra termasuk siregar dongoran keturunan 23 :)
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com